Sabtu, 22 Oktober 2016

Lakon Pakaian dan Kepalsuan (Saduran bebas ACHDIAT K. MIHARDJA)























Lakon
PAKAIAN DAN KEPALSUAN
Saduran bebas ACHDIAT K. MIHARDJA
Dari cerita sandiwara Rusia The Man With The Green Necktie
Karya Averchenko
















DRAMATIC PERSONAE

SAMSU,         pedagang
MAS ABU,     pegawai negeri
SUMANTRI, pemimpin politik
RATNA,         istri Sumantri
HAMID,         penganggur dan bekas pejuang
RUSMAN,      penganggur dan bekas pejuang
PELAYAN     dan yang lain-lain
Tempat berlaku  Suatu pondok dalam sebuah restoran kecil.
Waktu  Kira-kira pukul 22.00







































DI DALAM RESTORAN SUDAH SEPI. HANYA RUSMAN DAN HAMID YANG MASIH DUDUK BERHADAPAN MENGHADAPI SEBUAH MEJA KECIL. HAMID MINUM KOPI DAN RUSMAN BEER.
MEREKA MASIH MUDA, +25 TH. BADAN HAMID BESAR, TEGAP SEPERTI ATLIT. RUSMAN AGAK KURUS, TAPI KELIHATAN SEHAT DAN SEGAR. PAKAIAN MEREKA KURANG TERURUS, TERDIRI DARI KEMEJA DAN PANTALON YANG SUDAH KUMAL.

HAMID 
Yah, kalau kita terlalu mengikat diri kepada segala apa yang pernah kita cita-citakan dulu dan yang kini ternyata meleset semata-mata, maka memanglah kita harus kecewa belaka. Apalgi kalau kita melihat keadaan dikalangan politik kita dewasa ini dan bagaimana kotornya cara-cara pemimpin kita berbuat pengaruh dan kekuasaan, maka bagi kita sebagai bekas pejuang yang kini masih menganggur….

RUSMAN 
Tapi politik memang kotor.

HAMID 
Itu sama sekali tidak benar. Politik tidak kotor. Malah sebaliknya politik adalah satu hal yang murni. Sloganmu itu kini terlalu mudah diucapkan orang, seolah suatu kebenaran yang mutlak, padahal…..

RUSMAN TERTAWA.

HAMID 
Dengarkan dulu!.......

RUSMAN  (Tertawa).
Bagaimana kau bisa berkata begitu, Mid. Itu kan omong kosong. Tidakkah kau perhatikan, bagaimanapartai yang satu atau pemimpin yang satu membusukkan dan menentang partai atau pemimpin yang lain, agar partai atau pemimpin yang ditentangnya itu jatuh untuk kemenangan partainya atau dirinya sendiri? Untuk itu mereka menghasut, mendusta, menipu, menyogok, mengancam, menculik dan kalau perlu malah membunuh. Tidakkah berbuat begitu itu busuk semata-mata. Katakanlah politik itu tidak busuk.

HAMID 
Memang, tapi itu sama sekali tidak berarti, bahwa politik itu kotor. Sama sekali tidak. Itu hanya berarti, bahwa partai-partai itu sendiri , atau lebih tepat orang-orangnya itu sendiri yang busuk, yang tidak sanggup berbuat apa-apa, kalau tidak dengan car-cara yang busuk dan jahat. Jadi jelas, bahwa bukanlah politik yang kotor dan busuk itu, melainkan orang-orangnya itu sendiri.

RUSMAN  (Pada Pelayan).
Hai bung, coba kasih beer lagi. Botol kecil saja, ya. Dan ini yang kosong angkat saja.

HAMID 
Dengar, Rus, politik dan pemimpin politik adalah dua hal yang seperti meja dan kursi, sama sekali tidak sama. Atau lebih tepat lagi, tak ubahnya dengan agama dan penganutnya atau pemimpinnya. Dua pengertian yang berbeda-beda, karena kalau yang satu merupakan tugas, maka yang lainnya merupakan petugasnya. Kalau petugasnya jahat, itu tidak boleh diartikan bahwa tugasnya jahat pula. Betul tidak? Dan kalau kita ketahui, bahwa politik sebagai tugas ialah berarti bersama-sama mengatur susunan hidup, sehingga kepentingan dan kebutuhan hidup tiap orang bisa terpenuhi, lahir maupun batin, maka bisakah kita pertahankan kebenaran slogan tadi itu yang mengatakan, bahwa politik itu kotor?

RUSMAN  (Meneguk Birnya).
Bagiku pendapatmu itu terlalu bersifat teori, terlalu abstrak. Karena begitu kurang penting. Aku melihat kemyataan-kenyataan yang kongkrit.

HAMID 
Ini sama sekali tidak abstrak. Ini malah sangat kongkrit. Jelas toh, bahwa tugas dan petugas itu adlah pengertian yang tidak sama. Dan selanjutnya, tidaklah jelas pula bagimu, bahwa sesuatu tugas yang baik dan murni baru bisa dilaksanakan, apabila petugasnya sendiri mempunyai syarat-syarat yang diperlukan untuk menjalankannya.
Disinilah pikirku, letaknya soal; pada petugas-petugas itu sendiri! Apakah ada pada para petugas itu syarat-syarat yang dibutuhkan untuk menjalankan tugasnya yang begitu tinggi dan begitu murni seperti politik itu?
Tapi yang penting pula tentunya, apakah syarat-syaratnya itu?

(Merokok)

Saya rasa, semurni tugasnya, semurni itu pula tentu syarat-syaratnya itu. Dan adakah di duni ini yang lebih murni, lebih tinggi daripada nilai-nilai dan prinsip-prinsip hidup yang bertentangan dengan segala kepalsuan, segala dusta dan sebagainya itu?

(Rusman Meneguk Lagi Birnya)

Sekarang apabila kita perhatikan para pemimpin politik kita itu, apakah ada pada mereka itu syarat-syarat yang berupa prinsip-prinsip dan nilai-nilai hidup yang tinggi seperti yang kumaksudkan itu?
Saya rasa, sebelum orang lain, seharusnya mereka sendiri yang mengetahuinya. Mereka sendiri yang harus pandai mengukur dirinya sendiri. Apabila ternyata harus berani mencopot dirinya sendiri. Apabila ternyata harus berani mencopot dirinya sendiri dan kedudukannya sebagai pemimpin.

RUSMAN  (Tertawa Tiba-Tiba)
Kau ini belum juga berobah, Mid. Masih tetap seorang optimis.

HAMID 
Bagaimana?

RUSMAN 
Ya, bagaimana kau bisa mengharapkan, bahwa mereka atas kemauan mereka sendiri akan sudi mengundurkan diri dari kedudukannya. Ha, ha, untuk berbuat begitu, dibutuhkan jiwa yang besar

(Tertawa Dengan Kerasnya).

Lihat bung, saya rasa, untuk dewasa ini kita akan terlalu jauh masuk kedarah mimpi, kalau kita ngomong-ngomong tentang jiwa besar, tentang prinsip-prinsip hidup yang tinggi atau moral yang murni, dan sebagainya.
Kata-kata itu kini telah menjadi kata-kata asing, bukan saja bagi kaum politik, melainkan untuk umumnya orang-orang yang hidup pada masa sekarang.
Kata-kata itu sudah tidak dimengerti lagi, sebab orang jaman sekarang lebih mengerti kata-kata yang keluar dari mulut ini.

MENGELUARKAN PISTOL DARI SAKU CELANANYA, MENGACUNG-ACUNGKANNYA

HAMID 
Lho, dari mana kau dapat? Coba lihat….

(Rusman Menyerahkan Pistolnya)

Ada pelurunya?

RUSMAN 
Itulah sayangnya. Sebutirpun tidak ada. Aku mesti cari. Kau punya?

HAMID  (Melihat-Lihat Pistol Itu)
Darimana aku punya?

TERDENGAR DARI LUAR SUARA-SUARA ORANG HENDAK MASUK RESTORAN ITU. HAMID CEPAT-CEPAT MENYEMBUNYIKAN SENJATA ITU KEDALAM SAKU CELANANYA. TAK LAMA KEMUDIAN MASUK SEORANG WANITA DIIKUTI TIGA ORANG LELAKI. BERPAKAIAN RAPIH, BERBAJU DAN BERDASI, SEDANG YANG PEREMPUAN MEMAKAI ROK ABU DENGAN KEMEJA SUTRA PUTIH DENGAN SEHELAI SAPU TANGAN MERAH HIJAU DI ATAS DADA SEBELAH KIRI.
MEREKA MASUK SAMBIL RIUH BERCAKAP-CAKAP DAN TERTAWA-TAWA. PELAYAN SEGERA MEMBURU DAN MEMPERSILAHKAN DUDUK. MEREKA DUDUK DI SUDUT KIRI AGAK KE TENGAH. MEMESAN MINUMAN DAN MAKANAN RINGAN.

SUMANTRI  (Menyalakan Rokok “Camel”.Pada Mas Abu)
Bagaimana cerita saudara itu selanjutnya?

MAS ABU 
Ya, sesudah seluruh kampong pada lari ketakutan, maka… sungguh mati saudara, bukan sombong, yang berani tinggal hanya aku sendiri. Kemudian baru lima orang pemuda yang berani juga ikut dengan aku.
Mereka punya karabiyn masing-masing, sedang aku sendiri Cuma satu colt dan tiga buah granat tangan. Yang kuning itu, saudara-saudara tahu, yang seperti nanas kecil bentuknya. Nah dengan kelima pemuda itu, aku cegat musuh itu di atas sebuah lembah yang sempit.
Saudara tentu mengerti, betapa berdebar-debarnya hati kami, ketika menunggu musuh itu. Bukan karena takut. Sungguh mati saudara-saudara, bukan!
Karena perkataan takut itu sudah lama aku coret dari kamusku. Malah sebaliknya, bukan perasaan takut, melainkan ada semacam perasaan senang, seperti kalau kita sedang menunggu….

SAMSU 
Seorang kekasih.

TERTAWA

MAS ABU 
Ya, begitulah kira-kira. Bukan sombong, tapi begitulah kira-kira.

(Tertawa)

Memang, kalau kita sudah sering bertempur, musuh itu seolah mempunyai daya penarik yang boleh dipersamakan dengan daya penarik seorang kekasih.
Kita cari mereka, sepeti orang rindu cari jantung hatinya. Sungguh mari saudara-saudara, bukan sombong tapi perasaan rindu semacam itu ada padaku ketika itu...

SUMANTRI  
Cuma bedanya, kalau sudah bertemu, saudara tidak cium mereka dengan bibir, melainkan dengan granat, bukan?

(Tertawa. Yang lain pun ikut tertawa, kecuali perempuan itu, o yah nama perempuan itu ratna, sedangkan rusman dan hamid berbisik-bisik.)

Lantas bagaimana hasilnya pertempuran saudara itu?

MAS ABU 
Hasilnya? Pasukan musuh itu mampus semuanya, dan senjata-senjatanya kami rampas semuanya... Ahm kalau aku terkenang lagi kepada pertempuran-pertempuran seperti itu, kadang-kadang aku ingin kembali ke jaman revolusi itu. Sungguh mati saudara-saudara, bukan sombong.

SAMSU  (Sambil Makan Kroket)
Ya, ya, aku bisa mengerti, sebab akupun begitu juga.

SUMANTRI  (Sambil Mengudek Kopi Susunya)
Saudara dimana ketika itu?

SAMSU 
Saya? Saya ketika itu berada di lereng Gunung Galunggung. Saya pun memimpin satu pasukan.

SUMANTRI
Kukira saudara, memegang bagian perlengkapan.

SAMSU 
Memang. Tapi ketika ada peperangan, saya beranggapan., bahwa saya akan lebih berjasa untuk nusa dan bangsa, kalau ikut bertempur memimpin suatu pasukan daripada mencari ban mobil atau mesin tulis dan kertas karbon.

Dan pertempuran-pertempuran macam yang diceritakan oleh Mas Abu itu, di daerahku sendiri hampir tiap hari terjadi. Satu kali saya masih ingat ketika hari jumat, yaitu ketika orang-orang dari kampung kami baru pulang dari mesjid, tiba-tiba diserang oleh sebuah pesawat pemburu yang sambil melayang-layang sangat rendah memuntahkan peluru-peluru dari mitralyurnya, sehingga banyak sekali penduduk yang tidak berdosa mati konyol. Melihat keganasan musuh itu, maka aku tak tahan lagi. Kupasang mitralyurku, dan ketika pesawat itu rendah sekali terbangnya sambil menyirami tempatku dengan peluru, maka kubalas dengan semprotan dari mitralyurku yang semuanya kena sasaran, sehingga pesawat itu segera lari kearah utara sambil menggeleong-geleong miring kekiri miring ke kanan dn mengeluarkan asap dari ekornya. Terbakar ia, lalu jatuh entah dimana.

Coba saudara-saudara bayangkanlah betapa keadaan jiwaku, ketika aku menghadapi semprotan peluru yang mendesing-desing begitu deras sekitar kedua belah telingaku.
Takut? Sama sekali tidak. Seperti Mas Abu, akupun sudah mencoret perkataan takut itu dari kamusku.

SUMANTRI 
Saya pikir, memang untuk orang-orang yang sudah biasa menghadapi bahaya maut, perkataan takut ini sudah tidak ada lagi, untuk saya pun perasaan begitu itu sudah hapus.

(Hamid dan rusman berbisik-bisik lagi).

Semua pengalaman saudara-saudara itu sungguh seram. Tapi saya rasa lebih seram lagi apa yang pernah ku alami sendiri. Barangkali saudara-saudara belum mengetahui, bahwa di samping memimpin partai, aku selama memimpin revolusi itu bekerja sebagai seorang penyelidik.

Memang sebagai seorang politikus, kita harus pandai pula menjalankan pekerjaan penyelidik, karena sebagai politikus kita dengan sendirinya banyak musuh-musuh yang mau menjatuhkan kita karena politik memang sudah semata-mata berarti perebutan kekuasaan.

(Hamid dan rusman berbisik-bisik lagi.)

Kalau tidak awas-awas dan tidk hati-hati, kita mudah terjebak. Itulah maka seorang politikus harus pandai pula menyelidik. Tapi saudara-saudara tahu, apa syarat-syarat yang mutlak untuk menjadi seorang penyelidik?

Kesatu, otak kita harus tajam seperti pisau cukur.
Kedua, kita harus berani mati seperti orang gantung diri. Kalau kita bodoh dan penakut, jangan coba-coba kita mau menjadi penyelidik.
Kedua syarat itu berlaku juga sepenuhnya untuk kaum politik. Orang yang bodoh dan penakut tak usah ikut-ikut main politik.

(Hamid dan rusman berbisik-bisik lagi.)

Nah, pada suatu malam saudara-saudara, yaitu akibat pengkhianatan seorang kawan penyelidik yang tidak tahan uji ketika dia di tangkap dan disiksa oleh musuh, maka rumahku tiba-tiba digrebek dan aku tidak bisa meloloskan diri, lalu diangkut ke markas musuh.

SAMSU  (PADA RATNA)
Nyonya juga ikut tertangkap?

RATNA  (Sedikit Tertawa)
O, ketika itu saya masih gadis. Belum kawin. Dengarpun belum pernah tentang adanya seorang pemimpin yang bernama Sumantri.

SUMANTRI 
Ya, kami baru setahun ini kawin.
Di markas itulah mulai terbuka suatu neraka bagi diriku. Ah, saudara-saudara tidak akan bisa membayangkan, apa artinya neraka itu bagi diriku. Tahu saudara-saudara, bagaimana seramnya aku di siksa ketika itu?
Ihh! Kalau aku teringat lagi, aku masih menggigil. Bukan main ngerinya. Mula-mula aku dipukuli dengan rotan.

(Mengeluh)

Ah tidak seberapa bung lumayan saja.

(Sinis)

Hanya sekedar dielus-elus dengan rotan sebesar ibu jari, sehingga akibatnya pun tidak seberapa pula, Cuma punggungku bergaris-garis seperti punggung kuda zebra. Tapi biarpun begitu bung, alhamdulillah, aku tetap bungkam, tidak mau membuka rahasia tentara kita.
Bikinlah aku mati! Teriakku kepada algojo-algojo itu, tapi aku tidak akan berkhianat terhadap Nusa dan Bangsa.

(Hamid Dan Rusman Berbisik-Bisik Lagi.)

Kemudian bung, aku diseret kedalam sebuah kamar yang para-paranya terbuka. Aku mesti menjalani siksaan macam lain. Inipun tidak seberapa bung,

(Sinis Lagi)

Lumayan saja, Cuma sekedar harus merobah kebiasaanku sehari-hari, kalau biasanya aku tunduk kepada kehendak Tuhan dengan menempatkan kakiku dibawah dan kepalaku diatas, kini aku harus menurut kehendak algojo-algojo itu, karena kedua belah kakiku di gantung pada sebuah balok di para-para, sehingga aku harus melihat dunia yang terbalik. Tapi biarpun begitu, aku masih bungkam pula. Tidak mau aku berkhianat. Biar mati deh! Algojo-algojo itu mulai putus asa. Jelas bagi mereka, bahwa mereka sedang menghadapi seorang patriot yang tidak takut mati.

(Hamid Dan Rusman Berbisik-Bisik Lagi.)

Esoknya tangan dan kakiku diikat oleh mereka, lalu badanku digeletakkan diatas tanah seperti orang kulit putih yang hendak dibakar oleh orang-orang Indian. Aku berbaring telentang, dan tidak bisa bergerak apa-apa, kecuali mengedip-ngedip dengan mata. Mulut dan hidungku kemudian ditutupi dengan sehelai sapu tangan yang dicelupkan kedalam air. Siksaan inipun tidak seberapa bung, masih lumayan juga, karena Cuma nafasku menjadi mengap-mengap. Tiap kali aku hampir mati tercekit, maka sapu tangan yang basah itu diangkat sedikit ke atas, tapi segera ditutupkan lagi ke bawah, apabila aku sudah menarik nafas satu helaan.

Yah, lumayan juga, tapi aku masih tetap kuat iman. Aku masih bungkam seperti cacing mati.
Dan akhirnya bung, algojo-algojo itu rupanya sudah betul-betul putus asa. Mereka kemudian menggunakan siksaan yang terakhir. Bukan main enaknya bung. Badanku direjam-rejam dengan aliran listrik. Aku sudah tidak mengharapkan bakal hidup lagi. Tapi alhamdulillah, kini aku masih seperti seekor kambing di kebun sayur.
Dan lebih dari seekor kambing yang diberi sekeranjang kubis muda, aku merasa puas, karena sudah bisa mengatasi segala siksaan dengan tidak berkhianat.

HAMID DAN RUSMAN BERBISIK-BISIK LAGI.

RATNA  (Tertawa Sinis)
Kalau begitu, aku ini boleh merasa aman, karena dengan tidak terduga-duga aku ternyata telah berada ditengah-tengah tiga orang pahlawan yang benar-benar.
SAMSU  Iya, karena begitu saudara-saudara, saya rasa memang sudah sepatutnya dan seadilnya, dan memang sudah ditakdirkan Tuhan kalau kita sekarang masing-masing mempunyai kedudukan yang lumayan di masyarakat ini.

(Kepada Mas Abu)

Saudara misalnya, bekerja sebagai pegawai tinggi, saudara Sumantri sebagai anggota parlemen dan saya sendiri seorang Importuur, itu semua saya rasa memang sewajarnya, kalau kita mengingat jasa-jasa kita di jaman revolusi itu. Betul tidak?

(Hamid Dan Rusman Berbisik-Bisik Lagi)

Maka sekarang saudara-saudara, marilah kita minum untuk keselamatan kita bersama-sama sebagai patriot-patriot yang sudah berjasa untuk Nusa dan Bangsa. Prosit!

DENGAN WAJAH RIANG, KETIGA LELAKI ITU BERDIRI MENGACUNGKAN GELAS MASING-MASING, KECUALI RATNA MASIH DUDUK DENGAN TENANG. HAMID DAN RUSMAN BERBISIK-BISIK SEBENTAR, KEMUDIAN DENGAN LANGKAH YANG PASTI BERDIRI MENUJU ORANG-ORANG ITU.
RUSMAN MENARIK PELAYAN MASUK KE BELAKANG.

HAMID 
Kulihat saudara-saudara sekalian sudah pada jemu hidup. Buktinya saudara-saudara menipu diri sendiri untuk menyelimuti kejemuan itu dengan ngomong-ngomong, minum-minum, makan-makan. Ketawa-ketawa.

Ketahuilah saudara-saudara, menipu, mendustai, apalagi menipu dan mendustai diri sendiri adalah sangat menjemukan. Karena begitu kejemuan hidup dan kebiasaan saudara-saudara untuk menipu diri sendiri itu merupakan saling pengaruh yang tak putus-putusnya, sehingga kejemuan hidup saudara-saudara itu makin menjadi-jadi dan penipuan diri sendiri makin merajalela.

SAMSU 
Apa maksud saudara dengan semua itu? Saudara menuduh kami bahwa kami telah menipu diri sendiri? Sedangkan saudara tidak mengenal kami sama sekali.bertemu pun baru sekali ini. Saya misalnya yang berpikiran sehat....

HAMID 
Buktinya saudara? Tak seorang pun dari saudara-saudara itu yang betul-betul memperlihatkan pribadi saudara yang sebenarnya.

(Pada Samsu)

Saudara sendiri misalnya, siapa saudara itu sebenarnya?

SAMSU 
Saya? Siapa saya? Saudara mau tahu, siapa saya? Saya adalah wakil dari perusahaan NV Melati, yang mengimpor barang-barang tekstil dan pecah belah, juga makanan dalam kaleng. Nah itulah saya. Kalau saudara catat alamat kantor kami; Jalan Diponegoro 7 telepon Gambir 1722.

HAMID  (Tertawa Enak)
Ha, ha, ha, aku sudah menduga, bahwa saudara akan memberi jawaban yang lucu seperti itu.
Ha, ha, ha, nah lihatlah, kenapa saudara mesti berbohong? Kenapa saudara mesti berpura-pura dan menggunakan kedok bahwa saudara itu seorang wakil dari sebuah NV importuur. Itu berarti membohongi diri sendiri. Dan itulah yang membikin saudara jemu hidup.
Kenapa saudara tidak mau berterus terang saja, bahwa saudara itu seorang kiayi.

SAMSU 
Apa? Saya kiayi?

HAMID 
Ya, saudara kiayi. Jangan saudara mau coba-coba membohongi aku. Aku tahu bahwa saudara itu orang yang paling pandai dan paling cerdik. Aku pernah dengar tentang diri saudara.

SAMSU 
Maaf saudara, saya rasa, lelucon saudara itu boleh saudara dagangkan di Pasar Senen, tapi disini terang tidak akan laku.

HAMID  (Meletakkan Tangannya Dipundak Bahu Samsu)
Kiayi salim, janganlah kiayi berani membohongi aku.

SAMSU 
Kiayi Salim? Namaku Samsu. Samsu, tak kurang tak lebih.

HAMID 
Jangan bohong Kiayi. Tak ada gunanya Kiayi membohongi orang lain. Lagipula berbohong dilarang oleh tiap agama. Tentu hal itu Kiayi juga ajarkan kepada murid-murid Kiayi, bukan? Karena begitu, sekarang lebih baik Kiayi menceritakan saja dengan berterus terang kepada kami, bagaimanakah cara-cara kiayi ampai bisa begitu berhasil mengikat hati para wanita yang menganut ajaran kiayi?

SAMSU  (Melepaskan Tangan Dipundaknya Dengan Sangat Jengkel) Jangan pegang aku! Apa ini?

HAMID  (Menutup Mulut Samsu Dengan Tangannya)
Hai kiayi, jangan berteriak-teriak begitu. Tidak kiayi lihat? Depan kiayi kan seorang wanita. Apakah pantas kiayi berteriak begitu keras?

(Setelah Berkata Begitu Hamid Menarik Kembali Tangannya, Dan Pada Saat Itu Pula Mengeluarkan Pistol Dari Saku Celananya. Kemudian Ditodongkan Pada Dada Samsu Serta Dada-Dada Yang Lainnya.)

Saudara-saudara sekalian, saudara-saudara harus tahu pula bahwa aku ini sangat benci kepada orang-orang yang suka kepada kepalsuan-kepalsuan menipu diri sendiri dan berdusta.

(Melihat Pistol Ditodongkan Orang-Orang Itu Menjadi Gugup, Sumantri Dan Mas Abu Bergerak Hendak Lari, Tapi Dengan Isyarat Dari Ujung Pistol Mereka Didudukkan Kembali.)

Kawan-kawan, tenanglah. Jangan gugup dan jangn bergerak, karena bergerak sekarang membikin saudara-saudara tidak akan bisa bergerak lagi untuk selama-lamanya.
Dan saudara-saudara tahu, dalam hidup ini, gerak itu sangat penting. Sekali saudara-saudara, ketahuilah, bahwa aku ini seorang laki-laki yang baik hati. Aku hanya benci kepada kepalsuan. Karena begitu, kepada orang inipun aku tidak lain hanya mau menuntut, supaya ia mau mengemukakan pribadinya yang sebenarnya dan bukan yang palsu. Jadi ia tidak boleh bohong.

SAMSU 
Sesungguhnya, saya tidak bohong. Saya adalah seorang wakil dari NV Melati, suatu perusahaan impor. Kalau saudara tidak percaya, tanyalah Mas Abu itu.beliaulah yang selalu mengurus lisensi-lisensi bagi perusahaan kami. Atau lebih baik datanglah sendiri ke kantor kami; Jalan Diponegoro 7, telepon 1722 Gambir.

HAMID 
Kamu bohong, kiayi Salim. Kamu bohong. Kamu adalah seorang kiayi. Aku tahu.

SUMANTRI  (Setengah Berbisik Pada Samsu)
Ssstt bung! Bilang saja bahwa saudara betul kiayi. Tak usah segan-segan. Orang ini agaknya sedikit begini.

MEMBERI ISYARAT DENGAN TELUNJUKNYA MIRING DIATAS KENING

SAMSU  (Berbisik)
Habis saya bukan kiayi. Saya pedagang. Wakil dari NV Melati, Importuur. Saudara tahu sendiri. Dia bisa saksikan sendiri. Kantorku di jalan diponegaro 7, telepon 1722.

SUMANTRI 
Dia agak malu saudara, untuk mengakui terus terang bahwa ia seorang kiayi. Padahal sayapun tahu pula bahwa orang ini memang seperti saudara katakan, seorang kiayi, bukan?

(Pada Mas Abu)

Dan apa kata saudara? Tidakkah saudara pun sependapat dengan saya?

MAS ABU 
O, Tentu, tentu. Sungguh saudara, kalau kutilik benar-benar, memang jelas sekali bahwa saudara ini mempunyai wajah seorang kiayi. Tapi kenapa saudara ributkan benar hal itu. Ia kiayi, habis perkara.

HAMID 
Aku bukan meributkan hal itu. Aku hanya ingin mendengar dari pengakuannya sendiri, dari mulutnya.

MENODONGKAN PISTOLNYA KE MUKA SAMSU

SAMSU 
Baiklah kuakui. Aku ini seorang kiayi.

(Berdiri)

Dan sekarang ijinkanlah saya mau kencing dulu ke kakus.

HAMID
O, Tidak boleh. Tidak boleh. Tahan saja dulu.

(Pada Yang Lainnya)

Nah saudara, tidakkah benar apa yang kukatakan tadi? Dia kiayi, bukan?
Dan sekarang, kiayi Salim, kuulangi lagi pertanyaanku tadi; Bagaimanakah kiayi sampai berhasil mengambil hati para wanita, sehingga mereka lantas menganut ajaran kiayi. Ceritakanlah. Singkat saja.

MERAPATKAN MULUT PISTOLNYA TEPAT KEPELIPIS SAMSU

SAMSU 
Baiklah, baiklah. Akan kuceritakan... tapi, janganlah pistolmu ini ditekankan begitu kepada kepalaku. Nanti meletus. Aku takan bisa bercerita lagi nanti.

HAMID  (Menarik Pistolnya)
Ayo mulailah sekarang dengan ceritamu. Bagaimana cara-caramu untuk memikat wanita-wanita itu supaya mereka menganut ajaranmu.

SAMSU 
Itu gampang sekali. Kukawini wanita-wanita itu, lalu mereka dengan sendirinya menganut ajaranku.

HAMID 
Uch! Tolol amat ceritamu itu, kiayi. Suatu cerita pendek yang terdiri dari dua kalimat, tapi uch! Alangkah membosankannya. Heran kiayi sendiri tidak mengucapkan; ‘audzubillah atau astagfiru’llah.

(Pada Mas Abu)

Bukan begitu saudara? Tidakkah bagi saudara pun sangat membosankan cerita kiayi Salim itu?

MAS ABU 
Ya, ya, sungguh membosankan. Menyebalkan.

HAMID 
Ya, terutama bagi saudara, tentu lebih membosankan, daripada untuk orang-orang lain, karena saudara sebagai seorang rentenir tentu lebih tahu daripada orang-orang lain, apa harganya waktu bagi manusia dalam hidupnya.

MAS ABU 
Ah, maaf saja saudara, saya tidak mau disebut rentenir. Itu suatu hinaan yang kelewat besar bagi diri saya sebagai seorang pegawai tinggi, karena merentenkan dilarang oleh negara....

HAMID 
Juga oleh agama, bukan begitu kiayi Salim?

SAMSU HANYA MENGANGGUK PASIF.

MAS ABU 
Ya, karena begitu, maka saya merasa kelewat terhina oleh saudara. Dan karena begitu, saya akan dakwakan saudara pada polisi. Sungguh mati, bukan sombong, saya merasa terhina.

HAMID 
Seorang rentenir tahu benar, berapa harganya satu tahun, satu bulan, satu minggu, satu hari, satu jam, satu menit dan satu detik untuk kantongnya sendiri.
Bukan begitu saudara?

(Mas Abu Mengangguk Pasif, Karena Todongan Pistol Itu)

Karena begitu, saudara tentu paling merasa dirugikan oleh kiayi itu, karena waktu saudara diboroskan untuk mendengarkan cerita yang membosankan itu.
Sekarang, cobalah saudara ceritakan kepada kami, bagaimana caranya untuk mendapat uang banyak dengan tidak usah bekerja apa-apa.

MAS ABU 
Saya tidak tahu, karena sungguh mati saya ini bukan rentenir. Saya pegawai negeri, bukan sombong, saya ini seorang pegawai tinggi dari kementrian....

HAMID 
E e e, Saudara tetap tidak mau mengaku!

(Pada Samsu)

Hai kiayi Salim, ini orang mau mengelabuhi dirinya sendiri dan diri kita semua. Dia seorang rentenir, tapi mengakukan dirinya pegawai negeri.
Ha, ha, ha rupanya kawan kita ini takut dituduh orang, bahwa ia kerjanya Cuma menyuruh orang lain bekerja keras, sedangkan dia sendiri hanya enak-enak saja bermalas-malas dan hanya tahu menghitung-hitung hari dan bulan untuk menagih uangnya.
Tidakkah kiayi lihat, bahwa orang ini adalah seorang rentenir?

SAMSU 
Setahu saya, beliau itu memang seorang pegawai tinggi. Dan saya yakin benar, karena urusan lisensi dari perusahaan kami NV Melati yang alamatnya di Jalan Diponegoro 7, selalu diurus oleh beliau.

HAMID  (Menodongkan Pistolnya Kemata Samsu)
Tidakkah jelas bagi kiayi, bahwa orang ini seorang rentenir?

SUMANTRI  (Berbisik)
Bilang saja ya!

SAMSU 
Ya, sekarang jelas, saya tidak keliru lagi. Memang sekarang jelas, bahwa ia adalah seorang rentenir.

HAMID  (Kepada Mas Abu)
Nah, saudara dengar sendiri dari mulut kiayi itu. Saudara bukan pegawai negeri. Sedikitpun memang tak ada bukti-buktinya bahwa saudara seorang pegawai negeri.
Ha, ha, ha, corak dan gaya seorang pegawai negeri dan juga sifat-sifatnya ‘kan lain daripada seorang rentenir?

(Pada Samsu)

Bukan begitu kiayi?

(Samsu Mengangguk)

Nah, kiayi Salim pun sependapat dengan saya. Dan saudara jangan lupa, bahwa kata-kata dari seorang kiayi harus kita percayai. Kalau tidak, ia bukan lagi kiayi. Persis seperti terhadap kata-kata seorang pemimpin politik, bukan? Kita harus percaya. Kalau tidak, ia bukan pemimpin politik lagi.

(Kepada Sumantri)

Betul tidak saudara?

(Sumantri Mengangguk Yakin)

Nah saudara, sekarang kuulangi lagi permintaanku tadi itu. Ceritakanlah, bagaimana caranya saudara bisa mendapat uang dengan bermalas-malas. Singkat saja!

MAS ABU  (Dengan Gelisah)
Aku tahu, bahwa orang-orang lain membutuhkan aku. Kugunakan kebutuhan orang-orang itu.

HAMID 
Uch!! Sama tololnya cerita saudara dengan cerita kyai tadi. Panjangnya pun sama. Cuma dua kalimat, tapi membosankan, uch! bukan main ! Siapa yang tak jemu mendengarnya.

(Pada Sumantri)

Saya sungguh tidak mengerti, kenapa istri saudara yang begitu manis itu saudara biarkan saja dibikin jemu dengan dongeng-dongeng macam yang baru kita dengar dari mulut kedua orang itu. Padahal saudara sebagai seorang penjual obat yang suka melindungi orang-orang lain dari bahaya penyakit.
Penyakit tentu pertama-tama akan ingat kepada istri saudara sendiri. Supaya ia terlindungi dari suatu penyakit yang amat berbahaya seperti penyakit jemu itu.
Saudara toh betul penjual obat bukan?

(Sumantri hanya mengangguk dengan senyum lunak. berseru gembira)

Aha, saudara lebih mudah dari kawan-kawan saudara yang lain. Saudara tidak membantah dulu. Memang saudara takkan berani membantah karena sifat pekerjaan saudara tidak mengijinkan. Pekerjaan saudara ialah berhadapan dengan publik saudara. Publik yang saudara harus pikat hatinya supaya mau membeli obat-obatan saudara. Jadi membantah hanya akan diketawakan oleh publik saja. Dan diketawkan pblik itu tidak enak bukan? Malah minggu yang lalu ada seorang tetanggaku yang pada pagi buta terdapat sudah berayun-ayun pada sebatang pohon di kebunnya. Ia ternyata sudah memilih mati daripada hidup diketawakan publik.
Bagaimana sikap saudara? Apa yang lebih baik bagi saudara; mati atau diketawakan orang?

SUMANTRI 
Sayapun lebih baik mati.

HAMID 
Terang bagiku, bahwa kedudukan saudara sebagai seorang tukang obat itu sunggu ruwet. Mati saudara tentu tidak mau karena memang mati itu tidak sehat. Sedangkan diketawakan orangpun tentunya bagi saudara sangat berabe pula, karena diketawakan publik itu pada akhirnya akan mengakibatkan mati juga seperti tetanggaku itu.
Karena begitu saudara tentunya harus mencari jalan, supaya jangan mati dan jangan diketawakan pula.
Bukan begitu saudara?

(Sumantri Mengangguk)

Tapi ruwetnya bagi saudara ialah oleh karena publik itu mau diyakinkan bahwa obat-obatan saudara betul-betul mujarab. Dan ruwetnya lagi karena bagi publik itu tidak ada yang paling meyakinkan daripada bukti-bukti yang nyata. Ruwet bukan?

(Sumantri Mengangguk Lagi)

Tapi biarpun begitu, saya tahu, bahwa soal itu tidak begitu ruwet bagi saudara, seperti misalnya untuk orang lain. Karena saudara mempunyai suatu cara yang istimewa untuk memikat hati publik dengan tidak usah membikin mereka yakin dengan bukti-bukti yang nyata itu. Betul tidak?

(Sumantri Mengangguk Lagi.)

Aku tahu bahwa cara saudara yang istimewa itu ialah dengan jalan menyanyi. Bukan begitu?

(Sumantri Mengangguk Lagi)

Ha, ha, sungguh mudah saudara ini, tidak ada yang perlu dibantah rupanya.

(Samsu Bergerak Hendak Lari. Hamid Mengarahkan Pistolnya.)

Hai, kiayi, kenapa kiayi mau lari. Sabarlah dulu. Kita dengarkan dulu saudara tukang obat ini menyanyi sedikit untuk kita, supaya penyakit jemu hidup itu hilang dari saudara. Coba bung, silakan menyanyi sekarang.

SUMANTRI BIMBANG.

SUMANTRI 
Saya tidak bisa menyanyi.

HAMID 
Lihat saudara-saudara, ternyatalah kini bahwa saudara penjual obat ini mempunyai darah seni pula yang sungguh-sungguh murni. Buktinya, iatidak mau disebut pandai menyanyi, padahal kita tahu, bahwa ia seorang biduan yang ulung. Persis seperti tiap seniman besar yang selalu membantah kalau ia di sebut seniman besar. Seniman besar memang tidak mau menonjolkan dirinya sendiri. Persis seperti kawan kita ini.

SUMANTRI 
Biar harus disumpah apa saja, atau sekalipun harus dijatuhi hukuman disiplin partai, namun saya tetap mengatakan, bahwa saya tidak bisa menyanyi.

HAMID  (Melangkah Dekat Sumantri Dengan Pistolnya)
Saudara mau menyanyi atau tidak?

SUMANTRI  (Melirik Ke Arah Ratna Kemudian Ke Arah Pistol. Sumbang)
Bengawan solo
Riwayatmu ini
Sedari dulu...
Menjadi perhatian insani.

HAMID  (Bertepuk Gembira)
Bagus! Bagus! Sungguh meredu suara menyanyi. Bakat seni inilah yang membikin saudara selalu berpanen sukses dalam menjual obat kepada khalayak ramai.

(Pada Samsu)

Tahu kiayi bahwa pengaruh seni itu bisa menghaluskan hati orang-orang yang biadab?

SAMSU 
O, Tentu saja tahu.

HAMID 
Bagus, bagus. Saya senang mendengarnya. Nah saudara-saudara sekalian. Saudara-saudara mendengarnya. Nah, saudara-saudara sekalian, saudara-saudara telah melihat sendiri bahwa saudara-saudara sekarang sudah kembali kepada pribadi saudara yang sebenarnya. Saya sungguh gembira. Memang dalam hidup ini tidak ada yang paling busuk daripada kepalsuan, ketidak jujuran, penipuan, dusta.
Ia menemani kita pada setiap langkah, turut meluncur dari bibir dengan kata-kata yang kita ucapkan, turut memancar dari wajah kita dengan senyum dan ketawa.
Pendek kata, ia melekat pada diri kita dan menyelimuti pribadi kita yang sebenarnya seperti pakaian menyelimuti yang paling indah di dunia ini, yakni badan manusia.

(Pada Ratna)

Oleh karena itu nyonya, maka dengan segala hormat, saya minta supaya nyonya sudi membuka pakaian nyonya.

MENGARAHKAN PISTOL KEMUKA SUMANTRI

RATNA  (Bangkit)
Saudara gila!

HAMID 
O, tenanglah nyonya, tenanglah. Janganlah nyonya terlalu lekas marah. Lekas marah tidak baik, nyonya, karena orang yang lekas marah lekas tua.
Dan tua itu... ah, nyonya, tidak ada yang paling berat di dunia ini daripada tua, karena tua umur menuntut kematangan jiwa yang harus membedakan orang tua dari kanak-kanak. Suami nyonya tidak akan keberatan apa-apa.

RATNA 
Saudara betul-betul gila. Aku mesti panggil polisi.

HAMID 
O, jangan nyonya. Polisi tidak suka melihat orang telanjang. Nyonya belum dengar, bahwa kemarin di seluruh kota banyak gembel-gembel yang ditankapi?

(Ratna Melirik Pada Sumantri, Minta Dibela)

Nyonya lihat sendiri, suami nyonya tidak keberatan apa-apa. Dia diam. Dan seperti kata pepatah, orang yang diam berarti menyetujui.

(Merapatkan Mulut Pistol Ke Telinga Sumantri)

Sebagai seorang tukang obat yang berdarah seni, tentu saja suami nyonya pun suka pula melihat badan yang indah dan sehat, sekalipun badan itu badan istrinya sendiri. Bukan begitu saudara?

(Menekan Pistolnya)

Ayo jawab. Saudara tidak keberatan bukan?

SUMANTRI 
Saya.... saya..... ya, saya tidak keberatan.

HAMID
 Bagus! Itu dengan sendirinya saudara kan senang juga melihat keindahan?

SUMANTRI 
Ya, ya, saya senang.

(Melirik Ke Arah Ratna)

Dan.... dan badan istriku paling cantik di dunia.

HAMID 
Bagus ! tapi rupanya untuk istri saudara belum cukup jelas, bahwa saudara tidak keberatan. Katakanlah padanya!

SUMANTRI 
Ratna, sebetulnya kakak tidak mau, tapi a, a,.. terpaksa, Ratna kuijinkan, agar... agar kita selamat semuanya.
Silakan Ratna, kau buka pakaianmu. Tapi ... a, a, jangan terlalu banyak ratna, sedikit saja.

RATNA 
Ha, ha, ha, itulah pendirianmu sebagai seorang suami? Baiklah kalau begitu. Aku pun suka yang indah-indah dan sangat jijik kepada segala kekecutan. Baiklah kalau begitu. Akan kubuka pakaianku.

(Pada Hamid)

Tapi saudara, sudikah saudara memerintahkan supaya kiayi dan rentenir itu membalikkan mukanya?

HAMID 
O, itu tidak cukup nyonya.

(Berseru)

Rus! Rus!

(Rusman Bergegas Datang Dari Belakang)

Mana pelayan, Rus?

RUSMAN 
Saya kunci diadalam kakus bersama-sama yang lainnya. Berlima orang.

HAMID  (Ketawa)
Lima orang dalam satu kakus? Ada-ada saja kamu.

RUSMAN 
Kita lepaskan?

HAMID 
Biar saja dulu. Tapi tolong ikat mata kiayi dan rentenir ini dengan sapu tangan mereka.

RUSMAN 
Tangannya?

HAMID 
Tangannya tidak usah.

(Rusman Berbuat Sesuai Perintah)

Terima kasih, Rus. Sekarang kau kembali saja ke belakang. Jaga lagi orang-orang yang kau kunci di kakus itu.

(Mereka Berbisik-Bisik Dulu, Kemudian Rusman Pergi)
(Pada Samsu)

Sebagai kiayi, saudara tidak boleh melihat badan wanita telanjang yang bukan muhrim.

(Pada Mas Abu)

Dan saudara sebagai seorang rentenir tidak baik pula melihatnya, karena bunga ini bukan bunga yang saudara biasa hitung-hitung tiap hari, tiap bulan.

(Pada Ratna)

Silakan Nyonya!

SUMANTRI 
Ratna.... a, a,.. sedikit saja. Jangan terlalu banyak bukanya... a, a, asal saja.

RATNA 
Peduli apa kamu!

(Tangannya Sudah Membuka Pakaiannya, Sehingga Bentuk Buah Dadanya Yang Ditutupi Dengan Bh-Nya Nampak Tegak Dan Berisi)

Saudara ketarik oleh keindahan badanku ini? Kalau ketarik, tentu saudara ketarik juga oleh ciumku. Suamiku tentu akan mengijinkan pula.

HAMID  (Pada Sumantri Sambil Menekan Pistolnya)
Boleh?

SUMANTRI 
Bbbboleh....

(Pada Ratna)

Ratna... a, a, asal saja ciumnya .... a, a, asal menyentuh selewatan saja...

RATNA MEMONCONGKAN MULUTNYA KE ARAH HAMID. TAPI DENGAN HORMAT HAMID MENGAMBIL TANGAN RATNA LALU DIANGKATNYA KE BIBIR.

RATNA 
Hai! Kenapa saudara hanya mencium tanganku saja. Suamiku ‘kan sudah memberi ijin untuk mencium bibirku. Ciumlah bibirku. Atau saudara barangkali lebih suka mencium aku kalau aku sudah telanjang bulat. Baiklah kalau begitu...

HAMID 
Cukup Nyonya, cukup. Nyonya sudah cukup membikin hatiku bahagia. Pakailah saja lagi pakaian nyonya itu.

(Ratna Memakai Kembali Pakaiannya)

Rus! Rus!

(Rusman Masuk Kembali)

Tolong bukakan kembali tutyup mata mereka itu. Dan coba tolong pegang pistolku ini. Jagalah kawan-kawan kita ini, jangan sampai lari keluar, karena diluar banyak angin. Nanti mereka masuk angin.

(Ia Menyerahkan Pistolnya Pada Rusman, Kemudian Menuju Meja Semula Dan Menulis Sesuatu Diatas Secarik Kertas Bon. Kertas Itu Disimpan Dimejanya Dibebani Dengan Uang Logam. Kemudian Kembali Menuju Orang-Orang Dan Mengambil Kembali Pistolnya)

Nah, saudara-saudara, kami sekarang hendak pergi, karena tugas kami untuk menolong saudara-saudar sudah selesai. Akan tetapi sebelum berangkat, kami ingin memberi suatu kenang-kenangan kepada saudara-saudara sekalian. Dan kenang-kenangan itu saya letakkan diatas meja itu.

(Menunjukkan Dengan Ujung Pistol. Pada Ratna)

Harap nanti, apabila kami sudah pergi dari sini nyonya sendiri yang mengambilnya untuk kemudian diperlihatkan kepada kawan-kawan yang lain.

(Kepada Rusman)

Rus! Bebaskan dulu orang-orang itu dari kakus dan katakanlah kepada mereka bahwa uang untuk minuman kita ada diatas meja.

(Rusman Bergegas Ke Belakang, Tak Lama Kemudian Muncul Kembali. Hamid Menodongkan Pistolnya Kepada Orang-Orang Sambil Bergerak Mundur Menuju Pintu)

Mari kita pergi!.

SEPERGI KEDUA ORANG ITU, MEREKA SEREMPAK MENARIK NAFAS PANJANG, SEDANGKAN RATNA BERGEGAS MENGAMBIL KERTAS DARI MEJA HAMID.

RATNA  (Membacanya. Keras)

Saudara-saudara, dengan hati yang puas saya telah berhasil membuka kedok yang selama ini menutupi pribadi saudara masing-masing.
Sekarang silakan saudara-saudara melihat dimuka kaca cermin. Cermin takkan memberi bayangan yang palsu lagi kepada saudara-saudara.
Jelas akankelihatan, bahwa yang satu adalah seorang pandir, yang kedua seorang tolol, yang ketiga seorang pengecut dan yang keempat seorang wanita yang gagah berani.
Sedangkan saya sendiri adalah seorang badut yang suka membuka kedok orang-orang dengan sebuah pistol yang kosong.

KETIGA LELAKI 
Pistol kosong? Pistol kosong? Kurang ajar! Sungguh berani dia untuk menghina kita dengan sebuah pistol kosong. Betul-betul setan luar biasa dia. Kalau aku tahu bahwa pistolnya kosong...

MEREKA MENGUTUK-NGUTUK, MENGEPAL-NGEPAL TINJUNYA. RIUH. SAMSU LARI KE PINTU, MELIHAT KELUAR DIIKUTI OLEH SUMANTRI DAN MAS ABU. KEMUDIAN MEREKA MASUK LAGI. MENGUTUK-NGUTUK LAGI. MENGEPAL-NGEPAL TINJUNYA LAGI. SEMENTARA TENANG-TENANG SAJA. MEMANDANGI MEREKA SAMBIL GELENG-GELENG KEPALA.

RATNA  (Lantang Dengan Senyum Mengejek)
Silakan tuan-tuan, kejarlah orang-orang itu.
Pintu sudah terbuka luas untuk tuan-tuan.
Dan lampu-lampu di jalan cukup terang.
Ingin kulihat kekecutan dan kepalsuan mengejar kejujuran.

PADA SAAT ITU PULA PELAYAN DAN YANG LAINNYA DARI RESTORAN ITU MASUK DENGAN MUKA YANG GUGUP.


SELESAI

Minggu, 04 Januari 2015

Sistem Penilaian SBMPTN


Selama ini, proses seleksi SNMPTN telah menjadi suatu misteri sehingga banyak orang  yang beranggapan bahwa lulus tidaknya seseorang dalam SNMPTN ditentukan oleh faktor nasib. Peserta  hanya membayar, mendaftar, mengikuti ujian dan akhirnya menerima hasil.  Sebagian besar peserta tidak mengetahui proses apa yang akan dilakukan panitia SNMPTN terhadap Formulir Pendaftaran dan Lembar Jawaban yang telah mereka isi hingga pengumuman hasil SNMPTN.  Hal ini diperparah oleh keterbatasan informasi mengenai SNMPTN sehingga banyak peserta yang tidak lolos sering menjadikan proses ini sebagai kambing hitam apalagi ketika melihat temannya yang menurut dia kemampuannya lebih rendah malah diterima/lolos.
Bisa jadi banyak peserta bertanya-tanya kenapa nggak diterima di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) melalui Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) , padahal  termasuk siswa yang selalu masuk ranking dikelasnya. Tapi Entis Surentis  teman sekelasnya yang biasa-biasa saja malah diterima di PTN yang dipilihnya melalui SNMPTN.   Mungkin postingan ini bisa membantu menjawab misteri SNMPTN.  Tulisan ini diambil dari beberapa sumber  dengan maksud sebagai bahan evaluasi diri, paling tidak bagi adik-adik yang akan mengikuti  SNMPTN akan lebih bisa mempersiapkan diri untuk bertarung memperoleh kursi di PTN yang diminatinya.
Tentu saja paling utama untuk bisa lolos SNMPTN adalah kesiapan diri baik mental maupun akademik, termasuk memahami sistem penilaiannya.  Saya pikir itu berlaku untuk semua ujian, evaluasi, monitoring.  Artinya bagi yang di uji, yang dimonitoring, maupun yang dievaluasi mesti tahu betul sistem, kriteria, dan materi  penialaiannya. Apabila kita tidak tahu dan paham maka hampir dapat dipastikan kita nggak akan lolos karena kita tidak tahu apa yang mesti dipersiapkan.

SISTEM PENILAIAN SNMPTN  

Sistem Penilaian SNMPTN tahun-tahun sebelum 2009 menggunakan SISTEM NILAI MENTAH yaitu mengakumulasikan jumlah nilai dari mata pelajaran yang diujikan secara total.  Sedangkan sistem penilaian SNMPTN mulai  tahun 2010 memberlakukan SISTEM PERSENTIL  yaitu penlaian per mata pelajaran yang diujikan secara terpisah.  Dengan system persentil peserta SNMPTN/SBMPTN harus mengerjakan semua mata pelajaran yang diujikan karena semua hasil tes akan diperiksa dan dinilai secara terpisah.  Penggunaan system penilaian tersebut mempunyai dampak yang berbeda dalam menentukan siapa yang akan lolos SNMPTN.
Sebelum tahun 2009, pada saat menggunakan system NILAI MENTAH banyak  peserta yang lolos atau diterima oleh satu program studi/jurusan di PTN dengan hanya mengandalkan satu mata pelajaran yang dianggap paling dikuasainya. Sedangkan mata pelajaran lain  tidak dijawab satupun dalam lembar jawaban (kosong).  Oleh sebab itu banyak peserta/siswa dari Jurusan IPA lolos (diterima)  di Akuntansi UI atau Fikom Unpad, karena mereka mengandalkan kemampuan di matematika, sementara pelajaran Ekonominya jelek bahkan mungkin tidak diisi/dikosongkan untuk menghindari nilai minus.  Namun demikian bukan berarti yang lolos SNMPTN adalah peserta yang mengisi seluruh mata pelajaran dengan 100% benar jawabannya.  menurut saya sangatlah sulit (mendekati tidak mungkin !) peserta SNMPTN/SBMPTN mampu mengisi seluruh soal dengan benar 100%,  (kecuali jenius  he..he).  Jika kita termasuk orang biasa-biasa  dan tidak jenius, maka strategi mutlak diperlukan selain mempersiapkan kemampuan akademik (yang terbatas itu…he..he)

Sejak tahun 2009 SNMPTN telah menggunakan penilaian dengan sistem persentil. Sistem penilaian presentil menghendaki peserta mengerjakan semua mata pelajaran yang diujikan. Tindakan pengosongan jawaban satu atau dua mata pelajaran saja maka akan dinyatakan sebagai NILAI MATI dan dapat dipastikan peserta tidak akan lolos seleksi . Dapat difahami tujuan dari pemberlakukan sistem persentil adalah untuk menjaring para peserta SNMPTN yang memiliki kemampuan lebih komprehensif artinya tidak hanya mengandalkan satu atau dua mata pelajaran yang di ujikan.   Dari penilaian secara terpisah tersebut nantinya akan diberikan rangking dan peserta yang rangking rata-ratanya bagus di semua mata pelajaran yang diujikan berpeluang besar untuk lolos. Pokoknya, jangan sekali-kali mengosongkan jawaban satu matapelajaranpun, jawablah minimal satu pertanyaan tapi benar.

 TES BIDANG STUDI PREDIKTIF (TBSP) 

Perlu dipahami pula bahwa setiap bidang studi (mata pelajaran)  Tes Bidang Studi Prediktif (TBSP)  di nilai berdasarkan aturan, sebagai berikut :
  • Apabila jawaban betul dikalikan 4 (empat)
  • Apabila jawaban salah dikali -1. (minus satu),
  • Apabila tidak dijawab dikalikan 0 (nol).
Dengan aturan tersebut maka jangan menjawab asal-asalan atau menjawab tapi tidak yakin bahwa jawabannya benar.  Carilah pertanyaan lain yang  dapat dijawab dengan benar (lebih baik satu jawaban benar dari pada banyak menjawab tapi salah). Berikut  ilustrasi jawaban dari dua orang peserta yang mengerjakan 7 soal SBMPTN :

1. Peserta A Menjawab 7 soal dengan rincian soal no 1 benar (skor 4 ), no 2 benar(skor 4),no 3 salah (skor -1) , no 4 salah (skor -1),no 5 (skor -1 ),no 6 (skor -1 ),no 7 (skor -1 ) jadi jumlah skor nya adalah 3. Peserta B hanya menjawab 1 soal yaitu soal no 1 sementara soal nomor lainya tidak di isi maka si B mendapatkan skor 4

Dari ilustrasi di atas   bahwa kita jangan terlalu bernafsu menjawab tapi tidak yakin jika jawaban kita benar.  Jangan berspekulasi, jawablah pertanyaan jika dianggap  mampu menjawab dengan benar,  lebih baik lewat dulu pertanyaan sulit.  Jangan terbawa penasaran sehingga menghabiskan waktu untuk mengutak-ngatik soal dan jawaban.
Kontribusi atau bobot TBSP terhadap total skore adalah 70% (0,7),  Apabila jumlah  yang diujikan 7  matapelajaran maka masing-masing matapelajaran mempunyai bobot 70%  : 7 = 10 %  (0,1). Sedangkan sisanya yang 30 % untuk bobot Tes Potensi Akademik (TPA)
Setelah skor didapat, maka dilakukan pembobotan  hasil  TBSP masing-masing matapelajaran dikali 0,1 (total 70%, karena ada 7 bidang studi).  Inilah yang disebut sebagai nilai mentah (raw score). Dari skor ini peserta mendapatkan rangking per bidang studi  di program studi yang dipilihnya.
Berikut ilustrasi sederhana perbedaan sistem penilaian persentil dengan sistem nilai mentah :
Contoh Perhitungan dengan Sistem NILAI MENTAH:

Misal ada 3 siswa Cecep, Entis, dan Aep dengan nilai sbb:

Cecep mendapatkan ranking 1 di mata pelajaran A dengan nilai 100 , mendapatkan rank 3 dipelajaran B dengan nilai 10 dan mendapatkan ranking 3 dipelajaran C dengan nilai 10 maka total nilai nya adalah 120 ( maka Cecep peringkat 1 umum )
Entis mendapatkan ranking 2 dimata pelajaran A dengan nilai 30 , mendapatkan rank 2 dipelajaran B dengan nilai 30 dan mendapatkan ranking 2 dipelajaran C dengan nilai 30 maka nilai nya adalah 90 (maka Entis peringkat 3 umum )

Aep mendapatkan  ranking 3 dimata pelajaran A dengan nilai 10 , mendapatkan rank 1 dipelajaran B dengan nilai 50 dan mendapatkan ranking 1 dengan nilai 50 dengan nilai 50 maka nilai nya adalah 110(maka Aep peringkat 2 umum )
Jika jumlah kapasitas yang dapat diterima 2 orang,  maka yang akan lulus adalah Cecep  dan Aep. Perhatikan ! Rangking Nilai/skor setiap mata pelajaran tidak diperhitungkan.bahkan yang memiliki 2 ranking 1 saja masih klah dengan yang mendapatkan 1 ranking 1
Sedangkan Menurut  sistem persentil, setiap pelajaran siswa akan diranking. dan diberi NILAI BOBOT  dengan rumus sebagai berikut :  100 kali (1– (rangking/jumlah perserta) , mari kita coba ilustrasikan dengan contoh yang sama seperti nilai mentah namun dengan perhitungan persentil :

Cecep ranking 1 dimata pelajaran A maka nilainya adalah 100 x (1- 1/3)= 67  , ranking 3 dimata pelajaran B maka nilai nya adalah 100 x (1- 3/3)= 0 , ranking 3 dimata pelajaran C maka nilainya adalah 100 x (1- 3/3)= 0 , maka total nilai adalah 67

Entis ranking 2 dimata pelajaran A maka nilainya adalah 100 x (1- 2/3)= 33 , ranking 2 dimata pelajaran B maka nilainya adalah 100 x (1- 2/3)= 33 , ranking 2 dimata pelajaran C maka nilainya dalah 100 x (1- 2/3)= 33 , maka total nilainya adalah 99

Aep rankin3 dimata pelajaran A maka nilainya adalah 100 x (1- 3/3)= 0 , ranking 1 dimata pelajaran B maka nilainya adalah 100 x (1- 1/3)= 67 , ranking 1 dimata pelajaran C maka nilainya adalah 100 x (1- 1/3)= 67 , maka total nilainya adalah 134.

Dengan sistem persentil ternyata urutan terbaik adalah
1.  Entis   (134)
2.  Aep     (99)
3. Cecep  (67)

Jika jumlah kapasitas yang dapat diterima 2 orang, maka yang akan lulus adalah Entis dan Aep.
Berdasarkan penilaian secara terpisah itu, hasil tes akan diberikan rangking.
Coba perhatikan ! Entis misalnya, pada sistem NILAI MENTAH dia memperoleh total skor yang paling rendah. Jika sistem nilai mentah Entis  “TIDAK LOLOS”. Namun dengan sistem PRESENTIL justru Entis “LOLOS” Kenapa ?
Karena Entis mempunyai ranking yang relatif stabil disetiap matapelajaran yaitu rangking 2 di semua matapelajaran. Berbeda dengan Cecep, walaupun pada sistem nilai mentah diaLOLOS (karena mempunyai skor mentah tertinggi), Namun dengan sistem presentil Cecep malah “TIDAK LOLOS” Kenapa ? Karena Cecep hanya mengandalkan Mata pelajaran A  (rangking 1) sedangkan mata pelajaran lainnya diabaikan (mempunyai rangking 3).

Artinya, peserta dengan rangking rata-ratanya tinggi  di semua mata pelajaran yang diujikan akan berpeluang besar lolos SNMPTN. Jika tidak bisa tinggi semua…yaaaa paling tidak stabil di semua mata pelajaran.
Ilustrasi diatas mudah-mudahan mampu menjelaskan misteri, kenapa teman kalian yang tidak diperhitung ketika di SMA  malah LOLOS di SNMPTN/SBMPTN.

Informasi sistem penilaian presentil inilah yang tidak semua calon peserta mengetahuinya. Sehingga menganggap bahwa temannya yang tidak mempunyai kemampuan “mumpuni” malah lolos di SNMPTN. Saya tidak menyatakan bahwa teman anda yang dianggap “tidak mumpuni” itu mendadak pinter ketika ikut SNMPTN  atau “main mata dengan panitia. Tapi saya yakin dia mempunyai strategi jitu untuk bisa lolos SNMPTN karena sadar nggak mungkin mendadak pinter, tapi pasti dia  Cerdas !
Tentu saja tujuan Panitia memberlakukan sistem persentil itu adalah untuk menjaring/menyaring para peserta SNMPTN yang memiliki kemampuan lebih komprehensif. Alasannya, banyak kasus yang telah terjadi sebelumnya, di mana peserta yang lolos dan diterima di sebuah jurusan/program studi di PTN ternyata tidak memiliki kemampuan yang mahir sesuai jurusan yang dipilihnya.
Bagaimana kita memperoleh data pendaftar pada program studi yang kita pilih pada tahun ini ?  tentu saja tidak bisa, kita hanya bisa memperoleh jumlah pendaftar  tahun sebelumnya dengan cara googling.  jika sudah diperoleh maka kita bisa memprediksi seberapa besar peluang untuk bisa lolos.

 TES POTENSI AKADEMIK 
Selain TBSP,   SNMPTN/SBMPTN  juga menambahkan satu materi tes yaitu Test Potensi Akademik (TPA) dengan bobot penilaian 30 persen.  Bentuk TPA sendiri adalah tes kemampuan berpikir secara logis. Tes tersebut  berbeda dari psikotes yang harus ditangani khusus oleh psikolog.
Pada dasarnya TPA bertujuan untuk menjaring peserta SNMPTN/SBMPTN dengan menekankan panilaian pada tiga poin, yaitu kemampuan komunikasi, analisis, dan hitungan. TPA merupakan indikator panilaian intelegensia alamiah peserta, selain untuk menjaring siswa yang betul-betul memiliki kemampuan yang konprehensif melalui TPBSP.
Tes ini juga berguna sebagai indikator penilaian yang bebas dari kontaminasi bimbingan belajar sebab kebanyakan siswa yang lulus dan bisa mengerjakan soal tes hanya karena hapal rumus yang didapat saat bimbingan belajar saja bukan murrni kemampuan berpikir sendiri. Test ini juga bertujuan untuk menghindari peserta lolos tetapi tidak cocok dengan jurusan/program studi yang dipilihnya.
Soal-soal TPA memang tidak secara khusus diajarkan di Sekolah. Kemampuan menjawab TPA akan sangat bergantung pada pengetahuan umum dan kebiasaan membaca diluar buku pelajaran, seperti majalah, koran,  berita TV dan lain-lain.  Carilah contoh-contoh soal TPA agar anda terbiasa menjawab secara benar dan cepat.  Perlu dipahami pula bahwa SNMPTN/SBMPTN dirancang untuk menjaring calon mahasiswa yang selain pintar tapi juga cerdas.

MATERI SOAL
Materi soal untuk Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN/SBMPTN) dimungkinkan dibuat berbeda dari tahun ke tahun. Materi soal yang bersifat prediktif tersebut nantinya akan menjadi acuan untuk bisa mengetahui potensi calon mahasiswa sesuai program studi pilihannya. Bisa saja  materi soal SNMPTN tidak mengulang materi yang sudah diujikan pada Ujian Nasional (UN) SMA/Sederajat. Soal-soal dibuat di luar kurikulum SMA/Sederajat untuk bisa melihat kemampuan dan kelulusan siswa yang akan menimba ilmu di bangku kuliah sesuai program studi yang dipilih.
Idealnya, semua matapelajaran TBSP dan TPA harus bagus,  namun apabila dilihat dari soal-soal yang dikeluarkan , saya malah melihat tidak ada satu orang pesertapun yang akan mampu menjawab secara benar seluruh soal yang diujikan dengan waktu sangat terbatas.   Tanpa bermaksud mengajak berspekulasi, bagaimanapun perlu dilakukan strategi dan taktik agar bisa lolos dengan berbagai keterbatasan kemampuan yang ada pada diri kita.
Dari uraian diatas beberapa catatan taktik dan strategi yang perlu dilakukan :
1.  Pahami betul kriteria penilaian dan aturan main SNMPTN/SBMPTN
2. Pelajarilah soal-soal SNMPTN/SBMPTN tahun-tahun sebelumnya agar terbiasa dengan bentuk dan materi soal/pertanyaan SNMPTN/SBMPTN
3. Ikutilah beberapa kali Try Out  jauh sebelum SNMPTN/SBMPTN  yang diselenggarakan oleh penyelenggara Bimbel agar dapat mengukur kemampuan dan meningkatkannya.
4. Jawablah pertanyaan matapelajaran yang diujikan, jangan ada satu matapelajaranpun yang dikosongkan, jika ini dilakukan maka akan masuk pada NILAI MATI, yang dapat dipastikan tidak lolos
5. Jawablah soal yang  yakin dapat dijawab dengan benar, walaupun hanya 1 atau 2 soal sekalipun.  Jangan bernafsu untuk menjawab seluruh pertanyaan tapi tidak yakin bisa menjawab dengan benar.  Berdasarkan pengalaman peserta  dari yang Lolos SNMPTN/SBMPTN tahun-tahun sebelumnya, justru di hanya menjawab 1, 2 atau 3 pertanyaan dari setiap mapel, tapi yakin benar.
6. Jawablah soal yang paling mudah terlebih dahulu.  Jangan habiskan waktu mengutak-ngatik soal sulit  hanya karena penasaran.  Jawablah soal seperti anda mengisi teka teki silang. Setelah mengisi yang mudah biasanya akan muncul inspirasi jawaban soal yang sulit yang tadinya dilewat.
7. Pahami mata pelajaran pendukung program studi yang dipilih.  Misalnya  anda memilih program studi Teknik Sipil maka matapelajaran pendukungnya adalah matematik dan fisika. Upayakan nilai tes Matematik dan Fisika tinggi.
8. Carilah informasi jumlah pendaftar dan daya tampung pada program Studi yang dipilih di tahun-tahun sebelumnya  sebagai gambaran jumlah pesaing dan memprediksi ranking. (biasanya jumlah pendaftar tahun sebelumnya nggak terlalu jauh berbeda).  Misalnya disini
9. Walaupun tidak ada passing grade, namun perlu diperoleh informasi skore total (TBSP +TPA) yang dapat diterima di Program Studi yang dipilih dan bandingkan dengan hasil try out jika masih dibawah tingkatkan kemampuan samapai melebihi skore minimal Program Studi yang dipilih.
10. Jika ternyata  Skore  beberapa Try out tidak mampu melampaui nilai minimal, sudah saatnya mempertimbangkan untuk mengalihkan pilihan program studi atau PTN  yang  “passing grade”nya lebih rendah.
11. Ikutilah SNMPTN/SBMPTN dengan tenang dan tidak menjadi beban berat yang seolah-olah jika tidak diterima SNMPTN masa depan atau reputasi anda hancur…!

Jumat, 05 Desember 2014

Contoh Esay Bahasa Indonesia

Meningkatkan Budaya Berbahasa Indonesia yang Baik dan Benar Pada Kalangan Pemuda di Indonesia

Oleh : Fadilla Hijrani Nur Estya

  Bahasa Indonesia ialah bahasa yang terpenting di kawasan republik kita. Pentingnya peranan bahasa itu antara lain bersumber pada ikrar sumpah pemuda 1928 yang berbunyi: “Kami poetera dan poeteri Indonesia mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia” dan pada undang-undang dasar kita yang di dalamnya tercantum pasal khusus yang menyatakan bahwa “bahasa negara ialah bahasa Indonesia”. Bahasa Indonesia bisa disebut sebagai bahasa ibu, karena kedudukannya paling tinggi diantara beratus-ratus bahasa Nusantara yang masing-masing punya ciri khas tersendiri. Bahasa Indonesia yang amat luas wilayah pemakaiannya dan bermacam-macam penuturannya, mau tidak mau, takluk pada hukum perubahan. Arah perubahan itu tidak selalu akan terelakan karena kita pun dapat mengubah bahasa secara berencana. Kecenderungan mengunggulkan identitas asing akhir-akhir ini telah menjadi-jadi, tidak terkecuali bahasa. Hampir setiap gedung-gedung megah di Indonesia, terpampang tulisan-tulisan asing sebagai lambang kemodernan, sedangkan pemakai bahasa Indonesia dianggap kampungan atau tidak keren dan telah ketinggalan zaman. Sikap yang demikian ini tentu akan melunturkan citra dan identitas bangsa. Penggunaan bahasa Indonesia yang baik dan benar di zaman sekarang sungguhmemprihatinkan. Kemajuan teknologi yang semakin berkembang, memaksa para kaum muda di zaman sekarang kurang memperdulikan penggunaan bahasa Indonesia yang tepat. Anak muda sekarang lebih cenderung menggunakan bahasa atau ungkapan yang sedang ngetrend di seluruh dunia. Pengaruh sosial media dapat memenuhi aspek fungsi definisi bahasa Indonesia yang tepat. Untuk menanamkan kembali bahasa Indonesia yang baik dan benar harus dilihat dari faktor-faktor penyebab menurunnya popularitas bahasa Indonesia pada kalangan pemuda, dan mengupayakan mencari solusi terbaik untuk perkembangan bahasa Indonesia.
Pembakuan Bahasa
Awal mula pembakuan bahasa di sebuah negara terdapat istilah situasi diglosia yang berarti suatu situasi bahasa di mana terdapat pembagian fungsional atas variasi-variasi bahasa atau bahasa-bahasa yang ada di masyarakat. Yang dimaksud ialah bahwa terdapat perbedaan antara ragam formal atau resmi dan tidak resmi atau non-formal. Di dalam situasi diglosia ada tradisi keilmuan yang memiih ragam pokok yang tinggi sebagai dasar usaha pembakuan. Di Indonesia pun terjadi, bahkan dapat dikatakan bahwa ada kecenderungan untuk mendarkan penyusunan tata bahasa itu pada ragam tinggi bahasa tulisan. Karena adanya situasi diglosia tersebut yang merupakan cikal bakal lahirnya bahasa baku di Indonesia.
Keterampilan Berbicara Bahasa Indonesia di Sekolah
Berbicara merupakan salah satu alat komunikasi yang paling efektif. Hal ini mendorong orang untuk belajar berbicara dan membuktikan bahwa berbicara akan lebih efektif dibandingkan dengan bentuk-bentuk komunikasi yang lain. Maka bagi siswa bicara tidak sekedar merupakan prestasi akan tetapi juga berfungsi untuk mencapai tujuannya. Sehingga dalam pembelajaran bahasa Indonesia keterampilan berbicara merupakan kompetensi yang harus diujikan sesuai jenjang kelasnya. Keterampilan berbicara bahasa Indonesia di sekolah dasar ini hanya terwujud pada proses kegiatan belajar mengajar di kelas saja. Dalam kompetensi umum mata pelajaran bahasa Indonesia SD aspek berbicara mengungkapkan indikator-indikator yang berhubungan dengan mengungkapkan gagasan dan perasaan, menyampaikan sambutan, berpidato, berdialog, menyampaikan pesan, bertukar pengalaman, menjelaskan, mendiskripsikan, bermain peran, dan percakapan yang hanya dilakukan dalam pembelajaran saja.
Keterampilan berbicara bahasa Indonesia yang berhubungan dengan keseharian tidak pernah diukur dan dinilai. Para siswa dibiarkan berbicara menggunakan bahasa daerahnya masing-masing, padahal bahasa resmi yang digunakan pada pendidikan adalah bahasa Indonesia.
Sungguh ironis bila hal ini dibiarkan berlarut-larut pada setiap lembaga pendidikan. Kadang lembaga pendidikan lebih merasa bangga bila dapat mengembangkan bahasa asing lebih maju daripada mengembangkan bahasa Indonesia, seperti kata pepatah “kacang lupa kulitnya.“ Ini adalah bukti konkret pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah belum bisa mempraktikkan dalam kesehariannya. Ketika digunakan dalam percakapan sering sekali dijumpai berbicara dengan bahasa dialeknya. Oleh karena itu, perlu adanya upaya bagi para guru untuk menentukan kebijakan supaya pembelajaran bahasa Indonesia tidak hanya di kelas tetapi juga di luar kelas.
Bila keterampilan berbicara bahasa Indonesia dapat diterapkan dalam sehari-hari oleh seluruh anggota sekolah maka akan menumbuhkan rasa cinta tanah air dan menumbuhkan semangat nasionalisme. Sehingga dapat mempersatukan berbagai macam asal siswa, hal ini sesuai dengan fungsi khusus bahasa Indonesia yaitu sebagai alat pemersatu berbagai suku yang memiliki latar belakang budaya dan bahasa yang berbeda-beda(Yusi Rosdiana,2008)
Hambatan Berbicara Bahasa Indonesia dalam Keseharian
Dalam kegiatan sehari-hari aktifitas kita menggunakan bahasa, baik memakai bahasa lisan maupun bahasa tulisan dan sebagai bangsa Indonesia kita mempunyai bahasa Indonesia yang sering kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, banyak penggunaan Bahasa Indonesia, lisan maupun tulisan yang menyalahi kaidah yang ada. Dari tulisan di toilet terminal hingga tulisan papan nama Kementerian, mungkin masih banyak kesalahan di sana-sini. Ada yang beranggapan bahwa globalisasi-lah yang seharusnya mendorong kita untuk semakin meng-internasional-kan kebiasaan, termasuk penggunaan bahasa, jadi sekarang boleh dikatakan (kasarnya) semuanya “serbaEnglish“.Padahal, penggunaan English pun masih sering ada yang sekedar tulis tanpa yakin betul bahwa penulisaan dan ejaannya benar. Di Jogja ada banyak kasus semacam ini, padahal Jogja termasuk daerah yang mengakomodasi wisatawan asing paling banyak. Dan kalau kita perhatikan ada beberapa sikap destruktif sebagai pemakai bahasa Indonesia terhadap bahasanya.
Hal ini tercermin ketika dalam pergaulan sehari-hari mereka enggan berbicara bahasa Indonesia bahkan dengan lugasnya berbicara seenaknya. Mereka lupa bahwa penggunaan bahasa Indonesia dipakai pada bahasa resmi lembaga pemerintah dan pendidikan. Hal ini juga terjadi di sekolah-sekolah dari jenjang SD-SMA, mereka para guru tetap menggunakan bahasa daerahnya. Jarang sekali mereka berbicara menggunakan bahasa Indonesia ketika berbicara dengan teman guru atau bahkan dengan para siswanya. Sikap-sikap tersebut diantaranya :
Sikap yang lebih menghargai bahasa asing daripada bahasa Indonesia ( bahasanya sendiri) 
Sikap seperti ini muncul di antaranya disebabkan oleh suatu pendapat yang tidak tepat. Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa negara-negara asing lebih maju dan lebih baik kondisinya daripada Indonesia. Oleh karena itu, sesutau yang berasal dari negara asing itu, baik berupa hasil teknologi, budaya, termasuk di dalamnya bahasa, berarti hebat. Agar dirinya dianggap hebat maka ciri-ciri atau sesuatu ysng berasal dari negara asing itu harus ia perhatikan. Di antaranya melalui perilaku berbahasa. Akibatnya, tidak sedikit ia memasukkan kosa kata asing ke dalam tutur bahasa Indonesianya. Hasilnya, Anada dapat membayangkan sendiri bahasa Indonesia orang itu.
Belum adanya penilaian bagi siswa yang berbicara bahasa Indonesia.
Keadaan yang demikian menimbulkan sikap apatis pada diri siswa karena merasa tidak ada gunanya baik yang berbicara bahasa Indonesia maupun yang tidak. Belum adanya pengawasan dan penilaian dari guru dalam pelaksanaan berbicara bahasa Indonesia di luar kelas mengakibatkan siswa acuh dalam mempraktikkannya. Sehingga perlu adanya model penilaian yang nyata dalam percakapan sehari-hari.
Tidak adanya program berbahasa Indonesia dari lembaga pendidikan.
Untuk sementara ini pada setiap lembaga pendidikan belum ada yang mempunyai inisiatif memberlakukan bahasa Indonesia sebagai bahasa sehari-hari. Entah karena gengsi atau merasa bahasa Indonesia tidak terkenal.Padahal dikatakan oleh Profesor Yang Seung- Yoon, Ph.D dari Hankuk University of Foreign Stidiudies, Seoul, Korea, berpandangan bahwa bahasa Indonesia berpotensi menjadi bahasa internasional, setidaknya di Asia (M. Doyin, 2006). Pandangan tersebut memperlihatkan kepada kita bahwa kedudukan bahasa Indonesia di mata negara lain memiliki potensi untuk berkembang. Oleh karena itu, kebanggaan terhadap bahasa Indonesia harus kita pupuk sedini mungkin sebagai wujud penghargaan kita terhadapnya, sehingga ke depan kita dapat berharap bahasa Indonesia menjadi besar.
Upaya Meningkatkan Budaya Berbahasa Indonesia Yang Baik dan Benar
Meningkatkan kedisiplinan berbahasa Indonesia.
Meningkatkan kedisiplinan berbahasa Indonesia di segala sektor kehidupan.Dengan semboyan maju bahasa, majulah bangsa. Kacau bahasa, kacaulah pulalah bangsa. Keadaan ini harus disadari benar oleh setiap warga negara Indonesia sehingga rasa tanggung jawab terhadap pembinaan dan pengembangan bahasa Indonesia akan tumbuh dengan subur di sanubari setiap pemakai bahasa Indonesia. Rasa cinta terhadap bahasa Indonesia pun akan bertambah besar dan bertambah mendalam

Meningkatkan kebanggaan terhadap bahasa indonesia
 Apabila kebanggaan berbahasa Indonesia dengan jati diri yang ada tidak tertanam di sanubari setiap bangsa Indonesia, bahasa Indonesia akan mati dan ditinggalkan pemakainya karena adanya kekacauan dalam pengungkapan pikiran. Akibatnya bangsa Indonesia akan kehilangan salah satu jati dirinya. Kalau sudah demikian, bangsa Indonesia “akan ditelan” oleh bangsa lain yang selalu melaksanakan tugas dan pekerjaannya dengan menggunakan bahasa yang teratur dan berdisiplin tinggi. Sudah barang tentu, hal seperti harus dapat dihindarkan pada era globalisasi ini.
Melestarikan tata cara berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar
Jika kita tidak melestarikan tata cara berbicara bahasa Indonesia yang baik dan benar, maka bangsa kita ini akan terjajah oleh bangsa asing, karena apa yang dibicarakan dalam kehidupan sehari-haripun kita sudah tidak memakai bahasa Indonesia. Semua itu sama saja kita sudah terjajah oleh bahasa asing. Dampak lain yang tadi dikatakan bahasa Indonesia sudah tidak akan diapakai lagi mungkin akan hilang, dan bisa-bisa dampaknya akan berpengaruh kepada kebudayaan bangsa kita.
Suatu saat akan ada persyaratan khusus yang akan dilampirkan oleh pelamar kerja selain tes TOEFL. Lampiran tersebut adalah kemampuan seseorang tentang penggunaan bahasa Indonesia atau lebih dikenal dengan Uji Kemampuan Bahasa Indonesia (UKBI). Layaknya TOEFL, UKBI juga memiliki serangkaian materi yaitu mendengar, membaca, menulis, berbicara, dan merespon kaidah kebahasaan. UKBI yang memiliki surat keputusan Mendiknas nomor 152/U/2003 tersebut memiliki kategori istimewa, sangat unggul, unggul, madya, semenjana, marginal, dan terbatas. UKBI hadir untuk menevaluasi kemahiran seseorang dalam berbahasa Indonesia baik secara tulis maupun lisan. Dalam realisasinya memang masih terbatas untuk para pekerja asing yang hendak bekerja di Indonesia. Ternyata banyak dari mereka yang berhasil menguasai instrumen bahasa Indonesia, termasuk di dalamnya adalah pemakaian ejaan dan tanda baca.
Berperan aktif dalam mengembangkan Bahasa Indonesia.
 Sebenarnya kegiatan seperti ini salah satu cara melestarikan bahasa Indonesia. Dengan kegiatan tulis menulis seperti ini membuat para generasi muda lebih mengerti bagaimana cara memakai Bahasa Indonesia dengan benar, mengerti kenapa bahasa Indonesia itu perlu dilestarikan dan yang paling penting kita semua bisa menghargai bahasa Indonesia.


KESIMPULAN DAN SARAN
Bangsa Indonesia, sebagai pemakai bahasa Indonesia, seharusnya bangga menggunakan bahasa Indonesia sebagai alat komunikasi. Dengan bahasa Indonesia, mereka bisa menyampaikan perasaan dan pikirannya dengan sempurna dan lengkap kepada orang lain. Mereka semestinya bangga memiliki bahasa yang demikian itu. Namun, berbagai kenyataan yang terjadi, tidaklah demikian (walaupun bahasa indonesia memiliki banyak kelebihan). Rasa bangga berbahasa Indonesia belum lagi tertanam pada setiap orang Indonesia. Rasa menghargai bahasa asing masih terus menampak pada sebagian besar bangsa Indonesia. Mereka menganggap bahwa bahasa asing lebih tinggi derajatnya daripada bahasa Indonesia. Bahkan, mereka seolah tidak mau tahu perkembangan bahasa Indonesia.Untuk itu kita harus melestarikan bahasa, kita bahasa indonesia sejak dini mungkin.Pelestarian tersebut perlu adanya peran dan partisipasi semua lapisan masyarakat. Selain itu diperlukan juga metode jitu untuk memperkuatnya.


Jumat, 07 Maret 2014

Demi Lovato and Selena Gomez Friendship !


selena-demi-world-visionariesSelena Gomez & Demi Lovato‘s goodness and beauty has illuminated the world. Selena was bestowed the Young Visionary Award at unite4:humanity Gala and Demetria was bequeathed the Young Luminary Award.
Selena to William H. Macy: I’m thankful for you. You inspire me everyday. I hope together we can inspire people to focus on what’s really important.’ Macy: ‘Selena has maturity and grace, she’s been working for UNICEF for almost five years, which is epic time in teeange years. She’s raised a lot of money and awareness. Selena is the real deal.’
Demi on Africa: ‘I was struggling a lot with personal issues. I had to celebrate differently than a lot of other people. It was better than poisoning myself for a good night out.’ Selena: ‘Everyone handles things differently, and I just think I’m super fortunate to be where I am.’
Ultimately the goal is to use what I have. I have a platform and I’m very, very blessed to do what I love to do every day. The first step is using your voice. I want to be able to influence people my age, younger, older. I want to educate people.